Cari Blog Ini
Minggu, 16 Februari 2014
Wong Samin Pahlawan Tak Terkenang Radikalisme sosial dalam melawan kebijakan Belanda
Latar Belakang Dari Gerakan Saminisme
Tahun 1826 di wilayah Jawa terdapat sebuah kerajaan yang mempunyai raja bernama RM Adipati Brotodiningrat. Raja tersebut mempunyai 2 orang anak yang bernama Raden Ronggowirjodiningrat dan Raden Surowidjojo. Dimana keduanya merupakan orang yang dikenal mulia dan baik tutur tingkahnya.
Raden Surowidjojo sejak kecil di didik oleh orang tuanya Pangeran Kusumaningayu di lingkungan kerajaan dengan dibekali ilmu yang berguna, keprihatinan, tapa brata dan lainnya dengan maksud agar mulia hidupnya. Namun Raden Surowidjojo tidak suka karena tahu bahwa rakyat sengsara, dihisap dan dijajah bangsa Belanda. Selanjutnya R. Surowidjojo pergi dari Kabupaten hingga terjerumus dalam kenakalan, bromocorah, merampok, mabuk, madat dan lain-lain.
R. Surowidjojo sering merampok orang kaya yang menjadi antek(kaki tangan) Belanda. Hasil rampokan tersebut dibagi-bagikan kepada orang yang miskin, sedang sisanya digunakan untuk mendirikan kelompok/gerombolan pemuda yang dinamakan “Tiyang Sami Amin” tepatnya pada tahun 1840. nama kelompok tersebut diambil dari nama kecil Raden Surowidjojo yaitu Samin.
Sejak tahun 1840 nama Samin dikenal oleh masyarakat, sebab kelompok tersebut adalah kelompok orang berandalan, rampok. Namun ajaran tersebut bila dirasakan memang baik, karena ajaran tersebut dilakukan untuk menolong orang miskin, mempunyai rasa belas kasihan kepada sesama manusia yang sangat membutuhkan. Hal ini merupakan tingkah laku dan perbuatan yang baik.
Tahun 1859 lahirlah Raden Kohar di Desa Ploso, Kabupaten Bloro cucu dari Pangeran Kusumaningayu/ Raden Mas Adipati Brotodiningrat Bupati Sumoroto. Raden Kohar ini putra dari Raden Surowidjojo.
Kekecewaan Raden Surowidjojo terhadap antek-antek belanda terus hingga generasi Raden Kohar karena banyak orang yang sengsara. Disini banyak orang yang bertanggung jawab terhadap milik pribadi hingga harus berkorban jiwa tetapi ditarik pajak oleh Belanada hingga dipukuli dan dihajar seperti hewan.
Pada saat itu Raden Surowidjojo menghilang tidak tahu kemana, sehingga Raden Kohar hidupnya morat-marit tanpa harta benda. Akhirnya Raden Kohar menyusun strategi baru untuk meneruskan ajaran ayahnya untuk mendirikan Kerajaan. Raden Surowidjojo dinamakan Samin Sepuh, begitu juga Raden Kohar memakai sebutan Samin Surosentiko atau Samin Anom.
Raden Kohar (Samin Surosentiko) memiliki gagasan yang baik dan mendekati masyarakat mengadakan perkumpulan di Balai Desa atau lapangan. Semakin lama kelompoknya semakin banyak, karena mereka tahu bahwa gagasan Ki Samin Surosentiko adalah baik. Dari sini lah mulainya gerakan saminisme muncul. Gagasan yang baik untuk kehidupan masyarakat Indonesia dan demi kemakmuran bangsa Indonesia.
Gerakan Saminisme “Samin Surosentiko” Dan Radikalisme Sosial Yang Terjadi
Gerakan sosial Raden Kohar, yang selanjutnya bernama Samin Surosentiko ( sebuah nama yang lebih bernafaskan jiwa rakyat kebanyakan ), memiliki tiga unsur gerakan Saminisme :
Pertama, gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung.
Kedua, gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok.
Ketiga, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.
Menurut Sartono Kartodirjo, gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih.
Samin Surosentiko mengawali pergerakannya dari Klopoduwur, Banjarejo, Blora pada tahun 1890. Banyak yang tertarik atas gerakan tersebut dan dalam waktu singkat telah banyak orang menjadi pengikutnya. Saat itu pemerintah Kolonial Belanda menganggap sepi ajaran tersebut. Ajaran Samin Surosentiko hanya dianggap sebagai sebuah ajaran kebatinan atau agama baru yang berkembang di tengah rakyat jelata.
Pada 1903 residen Rembang melaporkan terdapat 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian selatan dan Bojonegoro. Pada 1907, pengikut Samin Surosentiko sudah berjumlah sekitar 5000 orang. Pemerintah mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
Pada 8 November 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian 40 hari sesudah menjadi Ratu Adil itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo. Beserta delapan pengikutnya, Samin Surosentiko dibuang ke Padang, Sumatera Barat.
Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan gerakan Samin. Pada 1908, Wongsorejo, salah satu pengikut Samin, menyebarkan ajarannya di Madiun dan mengajak orang-orang desa untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah. Oleh pemerintah Kolonial, Wongsorejo dengan sejumlah pengikutnya ditangkap dan dibuang ke luar Jawa.
Pada 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin Surosentiko di Grobogan. Puncak gerakan Samin Surosentiko terjadi pada 1914 ketika pemerintah Kolonial Belanda menaikkan pajak kepala. Para pengikut Samin menyambutnya dengan pembangkangan dan penolakan secara masif dan hal tersebut terjadi di semua wilayah penyebaran ajaran Samin Surosentiko. Para pengikut Samin Surosentiko di Purwodadi dan Balerejo, Madiun sudah tidak lagi menghormati pamong desa, polisi dan aparat pemerintah lainnya.
Dalam masa itu, di Kajen, Pati, Karsiyah, salah seorang pengikut ajaran Samin Surosentiko, tampil sebagai Pangeran Sendang Janur yang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati, orang-orang Samin juga mengejek dan memandang para aparat desa dan polisi sebagai badut-badut belaka. Di Desa Tapelan, Ngraho, Bojonegoro, juga terjadi perlawanan terhadap pemerintah Kolonial dengan tidak mau membayar pajak. Karena itu, teror dan penangkapan makin gencar dilakukan pemerintah Kolonial terhadap para pengikut Samin Surosentiko. Hingga pada akhirnya pada tahun 1930, gerakan saminisme para pengikut Samin Surosentiko mulai melemah dan tenggelam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar